|
Its was 7 o’clock in the morning , yesterday was a horrible night , i will never forgot what happen in last evening , no body can sleep. Otak ku berfikir , apa yang aku dapat di Basic Safety Traning? , bagaimana bertahan hidup dilaut? , berapa liter air dalam 1 lifeboat? , hand flare , smoke signal , gimana cara memakainya? Bagaimana mengoperasikan lifeboat ? im the engine operator but I don’t now to operate. Ombak pada malam itu mencapai level rought yaitu 2,5 sampai 4 meter. Hampir di seluruh zone 1 , mulai dari deck 4 sampai deck 10 dinding - dinding berteriak , mengernyit , kesakitan di kocok ombak.
And now I’m stading under the 25th April Bridge , this bridge is the same principles with Golden Gate bridge in San Francisco , I pass directly under the bridge , my eyes can’t stop to saw the big fucking giant steel , which hub two island either Tagus and Lisbon.
Aku kembali ke workshop , melanjukan kembali kerja ku.
12 o’clock in the afternoon , im going to my cabin , berganti pakaian , ganti celana , dan sepatu , take my Laminex , and going a shore. Tujuan pertama adalah , mengunjungi makam sang “kakek”. Tas ransel sudah menempel di punggung ku , peta kota Lisbon sudah ada di genggaman ku. I saw the map , soo di pertigaan ini I must go to the left. Aku harus melewati dulu sang imitasi golden gate baru aku akan menemui sang makam “kakek’.
Cuaca di Lisbon berbeda dengan ponta delgada , disini lumayan “ hangat “, aku kira semua negara eropa dingin , ternyata tidak berlaku disini. Di sisi kiri ku terbentang rel kereta api , hampir sama dengan yang ada di Indonesia , yang sama bukan penumpangnya , tapi mesin keretanya , kalau aku lihat , sepertinya kereta disini juga menggunakan motor DC , dapat di lihat dari pantograph , tapi aku tak tahu berapa tegangan untuk yang ada di panthograph. Kalau dilihat dari penumpangnya jelas sungguh berbeda , NO penumpang di atas atap , NO pintu terbuka , sepertinya naek kereta disini nyaman. tidak seperti kereta tanah abang – Bogor , yang setiap hari aku “tunggangi” waktu masih kuliah. Baru sampe bojong gede saja sudah penuh , jangan kan pake minyak wangi biar wangi , turun dari kereta jurusan Tanah Abang – Bogor udah beraroma terapi kelek(ketek).
Aku sudah berjalan hampir 1 jam , tepatnya 40 menit 35 sekon berjalan , sudah melewati kolong jembatan sang imitasi , tapi sang monument belum juga keliatan , masih terlihat sangat kecil di mata ku. Memperbesar tegangan di motor – motor asinkron yang tertancap di kaki ku untuk Mempercepat langkah.
Semakin besar…..semakin besar…..bangunan itu semakin membesar
“ ayoo ki….bentar lagi sampe…” ..memotifasi diri sendiri
Setelah berjalan more then 1 km aku tiba di Monument To The Discoverers , disana terdapat ukiran 15 orang.
Orang pertama sepertinya seorang kesatria karena dia menggunakan baju seperti yang di kenakan Frodo the Baggin pada episode the two tower , baju yang tahan terhadap benda tajam
Orang ke-dua adalah seorang wanita yang bersembah dan mengunakan mahkota (mungkin ia seorang ratu).
Orang ke- tiga seorang kakek – kakek , tampaknya kelelahan , ia bersandar pada tongkat di tangannya
Orang ke-empat dan ke-lima seperti seorang pendeta atau agamawan , ikat pinggangnya hampir sama dengan ikat pinggang yang aku lihat pada pria berjubah putih di Ponta Delgada.
Selain itu ada yang membawa sebuah pedang , ada yang memegang rol pengumuman pada masa cinderrela, ada juga yang membawa palet untuk melukis , dan di ujung dari 15 orang itu adalah Vasco Da Gama. Diluar banguan ini benar kata Andrea Hirata , seniman - seniman jalan beratraksi dengan bebasnya , ada 2 seniman jalanan yang sedang beraksi , pertama adalah para penari balet , meliuk - liukan badan seenak jidat , dan yang satu lagi adalah , pemusik , Actually aku ga tahu itu musik apa , riquem mungkin karangan muzzart , coz terdengar menyeramkan. Mereka memainkan alat music tiup seperti suling , tapi bukan suling , terbuat dari bamboo , tapi sepertinya bukan bamboo , mereka berpakaian seperti Indian tapi mereka bukan indian. Sepertinya music dari suku Indian.
Aku mencoba masuk ke dalam monument , aku perhatikan baik - baik pintu masuk , adakah larangan - larangan yang dilarang , seperti dilarang merokok , dilarang membawa makanan dari luar. Menaiki anak tangga satu per satu , aku dengar - dengar didalam sana ada makam VASCO DA GAMA.
Tiba di anak tangga terakhir , yang aku temui hanya toko souvenir dan 1 orang wanita yang menjaga lift untuk naik ke lantai atas , aku perhatikan sekeliling.
“ di mana makammmm nyaaaaa….???? “
Disini emang tidak ada makam….yang ada hanya toko yang menjual kalung – kalung dari besi , gelang – gelang dari kuningan , dan anting – anting sebagai cinderamata.
Aku pun kembali keluar
“ where..?? ….nanya ke siapa..??..mereka ga bisa bahasa inggris…hanya bahasa portugis , bahasanya orang bugis ”
Aku kembali menatap map yang ada di tangan ku…..
Mambaca bangunan apa yang aku kunjungi sekarang , kenapa tidak ada.
Aku melihat di lain sisi map memang ada bangun lain yaitu BELEM TOWER
“ disini bukan yaa…??...apakah disini…?? Iya??..…masa c…?? “
Jam sudah menunjukan jam 1. 30 dan aku merencanakan kembali ke kapal jam 1.30
Tapi kapan lagi aku ke makam sang tokoh yang namanya tercantum di buku sejarah.
Angel and demon karangan Dan Brown bertengkar di otak ku
Aku melangkah maju untuk menuju ke BELEM , tapi hati ku tidak yakin , hanya separuh hati , bukan separuh nafas karangan Ahmad Dhani.
“ sudah jam segini…!! Ga mungkin sempet..”
Berhenti sejenak….
Menatap Belem dari kejauhan….
“ tidak usah…yasudah relakan saja “….aku pun berbalik arah , berjalan kembali menuju kapal
3 langkah menjauhi Belem , tertunduk lesu
5 langkah menjauhi Belem.
Mata ku kembali menatap Belem , aku berhenti berjalan
“ klo tidak sekarang , kapan..?? …kapan lagi ke makam Vasco.?? “
Perang sangat sengit di kepala ku
“ ok , I take it “…..demon pun menang
Aku kembali menuju Belem tower
“ aku harus bisa melihatnya..”, ku genggam erat peta kota Lisbon.
3 langkah menuju Belem
5 langkah menuju belem
Langkah ku kembali terhenti
“ ga….ga bisa…sudah telat….sangat jauh jaraknya….nanti telat”, angel menasehati ku…
Aku hanya menatap Belem dari jarak jauh
“ga…ga..mungkin..”…., dan aku kembali berpaling
“ kembali ke kapal…”
3 langkah menuju ke kapal , meninggalkan Belem
5 langkah menuju kapal , meninggalkan Belem
“ No…lets go “ , demon mengajakku kembali kesana.
Bagaikan panggilan shetan , aku pun berpaling dan kali ini aku kencangkan tasku ke pinggang dan berlari menuju belem , bener bener berlari like a horse. Tak peduli orang - orang melihatku seperti atlet lari marathon olimpiade.
“ aku pengen melihat….”
Entah berapa megavolt tegangan yang menyuplai kaki ku , aku terus berlari seperti Forest Gum ,
” Run forest….runnnn….”, Belem pun semakin besar.
“ sedikit lagi…” , kembali memotifasi diri
Semangat yang begitu membara , Hanya dalam hitungan detik motifasiku hancur , aku tiba di ujung jalan. Di depan ku terdapat seperti teluk buatan yang kecil hanya 5 meter , memisahkan Belem dengan Monument
“ shitttt….”
“ kenapa begini..?? , aku harus memutar..??, ga ada waktu..!! “
“F*** , S**** , A***** Z*****“ , semua kata kotor hampir keluar semua dari mulut ku..
Ini jarak terdeket ku dengan makam Vasco de Gama , jarak terdekat ku dengan Belem , mungkin aku memang tidak di takdirkan untuk melihatnya , mungkin aku tidak di takdirkan untuk berdoa di sampingnya.
Aku berjalan pulang , kini benar kata angel , lebih baik aku kembali dari tadi , tidak perlu berdebat , sekarang waktu ku sudah habis , berkurang demi rasa penasaran yang belum tentu benar. Aku hanya mengambil foto bangunan yang ada di seberang jalan di depan Monument. Entah bangunan apa aku tidak perhatikan dengan jelas. Yang pasti bangunan itu sangat Oldest.
Tiba di kapal , upload foto , sekaligus mencari tahu bangunan apa yang satu itu , sedikit membaca Adventures ashore port guide yang buat penumpang.
Disana tertulis
“ A short distance down a river from central Lisbon is the belem tower quarter , which evokes memories of portugal’s long maritime and colonial history. The striking Belem tower is a richly carved 16th century fort at the waters edge , which marks the starting point of many voyage of discovery , like Vasco Da Gama’s epic journey to india around the tip of Africa. Behind the monument is the Beautiful Jeronimos Monastery , was built to commemorate that expedition , with a chapel founded by Princes Henry and the cornerstone loid by king Manuel in 1502. The Chapel contains a wonderfully carved statues and seafaring symbols , stained glass , and the Tombs of Vasco Da Gama “
A little bit shock membaca tulisan itu , bukan di Belem , bukan di Monument , tetapi di bangunan di seberang jalan sana , terbaring jasad seorang VASCO DA GAMA .
Di dalam the beautiful JERONIMOS MONASTERY.
And now I’m stading under the 25th April Bridge , this bridge is the same principles with Golden Gate bridge in San Francisco , I pass directly under the bridge , my eyes can’t stop to saw the big fucking giant steel , which hub two island either Tagus and Lisbon.
Aku kembali ke workshop , melanjukan kembali kerja ku.
12 o’clock in the afternoon , im going to my cabin , berganti pakaian , ganti celana , dan sepatu , take my Laminex , and going a shore. Tujuan pertama adalah , mengunjungi makam sang “kakek”. Tas ransel sudah menempel di punggung ku , peta kota Lisbon sudah ada di genggaman ku. I saw the map , soo di pertigaan ini I must go to the left. Aku harus melewati dulu sang imitasi golden gate baru aku akan menemui sang makam “kakek’.
Cuaca di Lisbon berbeda dengan ponta delgada , disini lumayan “ hangat “, aku kira semua negara eropa dingin , ternyata tidak berlaku disini. Di sisi kiri ku terbentang rel kereta api , hampir sama dengan yang ada di Indonesia , yang sama bukan penumpangnya , tapi mesin keretanya , kalau aku lihat , sepertinya kereta disini juga menggunakan motor DC , dapat di lihat dari pantograph , tapi aku tak tahu berapa tegangan untuk yang ada di panthograph. Kalau dilihat dari penumpangnya jelas sungguh berbeda , NO penumpang di atas atap , NO pintu terbuka , sepertinya naek kereta disini nyaman. tidak seperti kereta tanah abang – Bogor , yang setiap hari aku “tunggangi” waktu masih kuliah. Baru sampe bojong gede saja sudah penuh , jangan kan pake minyak wangi biar wangi , turun dari kereta jurusan Tanah Abang – Bogor udah beraroma terapi kelek(ketek).
Aku sudah berjalan hampir 1 jam , tepatnya 40 menit 35 sekon berjalan , sudah melewati kolong jembatan sang imitasi , tapi sang monument belum juga keliatan , masih terlihat sangat kecil di mata ku. Memperbesar tegangan di motor – motor asinkron yang tertancap di kaki ku untuk Mempercepat langkah.
Semakin besar…..semakin besar…..bangunan itu semakin membesar
“ ayoo ki….bentar lagi sampe…” ..memotifasi diri sendiri
Setelah berjalan more then 1 km aku tiba di Monument To The Discoverers , disana terdapat ukiran 15 orang.
Orang pertama sepertinya seorang kesatria karena dia menggunakan baju seperti yang di kenakan Frodo the Baggin pada episode the two tower , baju yang tahan terhadap benda tajam
Orang ke-dua adalah seorang wanita yang bersembah dan mengunakan mahkota (mungkin ia seorang ratu).
Orang ke- tiga seorang kakek – kakek , tampaknya kelelahan , ia bersandar pada tongkat di tangannya
Orang ke-empat dan ke-lima seperti seorang pendeta atau agamawan , ikat pinggangnya hampir sama dengan ikat pinggang yang aku lihat pada pria berjubah putih di Ponta Delgada.
Selain itu ada yang membawa sebuah pedang , ada yang memegang rol pengumuman pada masa cinderrela, ada juga yang membawa palet untuk melukis , dan di ujung dari 15 orang itu adalah Vasco Da Gama. Diluar banguan ini benar kata Andrea Hirata , seniman - seniman jalan beratraksi dengan bebasnya , ada 2 seniman jalanan yang sedang beraksi , pertama adalah para penari balet , meliuk - liukan badan seenak jidat , dan yang satu lagi adalah , pemusik , Actually aku ga tahu itu musik apa , riquem mungkin karangan muzzart , coz terdengar menyeramkan. Mereka memainkan alat music tiup seperti suling , tapi bukan suling , terbuat dari bamboo , tapi sepertinya bukan bamboo , mereka berpakaian seperti Indian tapi mereka bukan indian. Sepertinya music dari suku Indian.
Aku mencoba masuk ke dalam monument , aku perhatikan baik - baik pintu masuk , adakah larangan - larangan yang dilarang , seperti dilarang merokok , dilarang membawa makanan dari luar. Menaiki anak tangga satu per satu , aku dengar - dengar didalam sana ada makam VASCO DA GAMA.
Tiba di anak tangga terakhir , yang aku temui hanya toko souvenir dan 1 orang wanita yang menjaga lift untuk naik ke lantai atas , aku perhatikan sekeliling.
“ di mana makammmm nyaaaaa….???? “
Disini emang tidak ada makam….yang ada hanya toko yang menjual kalung – kalung dari besi , gelang – gelang dari kuningan , dan anting – anting sebagai cinderamata.
Aku pun kembali keluar
“ where..?? ….nanya ke siapa..??..mereka ga bisa bahasa inggris…hanya bahasa portugis , bahasanya orang bugis ”
Aku kembali menatap map yang ada di tangan ku…..
Mambaca bangunan apa yang aku kunjungi sekarang , kenapa tidak ada.
Aku melihat di lain sisi map memang ada bangun lain yaitu BELEM TOWER
“ disini bukan yaa…??...apakah disini…?? Iya??..…masa c…?? “
Jam sudah menunjukan jam 1. 30 dan aku merencanakan kembali ke kapal jam 1.30
Tapi kapan lagi aku ke makam sang tokoh yang namanya tercantum di buku sejarah.
Angel and demon karangan Dan Brown bertengkar di otak ku
Aku melangkah maju untuk menuju ke BELEM , tapi hati ku tidak yakin , hanya separuh hati , bukan separuh nafas karangan Ahmad Dhani.
“ sudah jam segini…!! Ga mungkin sempet..”
Berhenti sejenak….
Menatap Belem dari kejauhan….
“ tidak usah…yasudah relakan saja “….aku pun berbalik arah , berjalan kembali menuju kapal
3 langkah menjauhi Belem , tertunduk lesu
5 langkah menjauhi Belem.
Mata ku kembali menatap Belem , aku berhenti berjalan
“ klo tidak sekarang , kapan..?? …kapan lagi ke makam Vasco.?? “
Perang sangat sengit di kepala ku
“ ok , I take it “…..demon pun menang
Aku kembali menuju Belem tower
“ aku harus bisa melihatnya..”, ku genggam erat peta kota Lisbon.
3 langkah menuju Belem
5 langkah menuju belem
Langkah ku kembali terhenti
“ ga….ga bisa…sudah telat….sangat jauh jaraknya….nanti telat”, angel menasehati ku…
Aku hanya menatap Belem dari jarak jauh
“ga…ga..mungkin..”…., dan aku kembali berpaling
“ kembali ke kapal…”
3 langkah menuju ke kapal , meninggalkan Belem
5 langkah menuju kapal , meninggalkan Belem
“ No…lets go “ , demon mengajakku kembali kesana.
Bagaikan panggilan shetan , aku pun berpaling dan kali ini aku kencangkan tasku ke pinggang dan berlari menuju belem , bener bener berlari like a horse. Tak peduli orang - orang melihatku seperti atlet lari marathon olimpiade.
“ aku pengen melihat….”
Entah berapa megavolt tegangan yang menyuplai kaki ku , aku terus berlari seperti Forest Gum ,
” Run forest….runnnn….”, Belem pun semakin besar.
“ sedikit lagi…” , kembali memotifasi diri
Semangat yang begitu membara , Hanya dalam hitungan detik motifasiku hancur , aku tiba di ujung jalan. Di depan ku terdapat seperti teluk buatan yang kecil hanya 5 meter , memisahkan Belem dengan Monument
“ shitttt….”
“ kenapa begini..?? , aku harus memutar..??, ga ada waktu..!! “
“F*** , S**** , A***** Z*****“ , semua kata kotor hampir keluar semua dari mulut ku..
Ini jarak terdeket ku dengan makam Vasco de Gama , jarak terdekat ku dengan Belem , mungkin aku memang tidak di takdirkan untuk melihatnya , mungkin aku tidak di takdirkan untuk berdoa di sampingnya.
Aku berjalan pulang , kini benar kata angel , lebih baik aku kembali dari tadi , tidak perlu berdebat , sekarang waktu ku sudah habis , berkurang demi rasa penasaran yang belum tentu benar. Aku hanya mengambil foto bangunan yang ada di seberang jalan di depan Monument. Entah bangunan apa aku tidak perhatikan dengan jelas. Yang pasti bangunan itu sangat Oldest.
Tiba di kapal , upload foto , sekaligus mencari tahu bangunan apa yang satu itu , sedikit membaca Adventures ashore port guide yang buat penumpang.
Disana tertulis
“ A short distance down a river from central Lisbon is the belem tower quarter , which evokes memories of portugal’s long maritime and colonial history. The striking Belem tower is a richly carved 16th century fort at the waters edge , which marks the starting point of many voyage of discovery , like Vasco Da Gama’s epic journey to india around the tip of Africa. Behind the monument is the Beautiful Jeronimos Monastery , was built to commemorate that expedition , with a chapel founded by Princes Henry and the cornerstone loid by king Manuel in 1502. The Chapel contains a wonderfully carved statues and seafaring symbols , stained glass , and the Tombs of Vasco Da Gama “
A little bit shock membaca tulisan itu , bukan di Belem , bukan di Monument , tetapi di bangunan di seberang jalan sana , terbaring jasad seorang VASCO DA GAMA .
Di dalam the beautiful JERONIMOS MONASTERY.
.jpg)
Posting Komentar