Yellow Fever

3 hari menjelang keberangkatan , ada saja masalah yang harus dibereskan. Kemarin aku di telepone , bahwa aku tidak jadi ke New Zealand. Kini aku harus bersiap pergi ke Sydney Australi. Aku ga tahu gimana nasib visa Australi ku , apakah sudah jadi atau belum , di tambah lagi aku harus mendapatkan vaksin yellow fever , aku sudah mencari diseluruh kota bogor , aku datangi setiap rumah sakit , mulai dari rumah sakit ibu dan anak Hermina , RS karya bhakti , Azra , sampai RS Salak , semua menyatakan hal yang sama

“di sini ga ada Pak”

kata kata yang membuat ku pesimis , “dimana lagi aku harus mendapatkannya “ , aku sudah menelepon kurang lebih 10 RS di jakarta dan 3 bandara , hasilnya tetap nihil.

Tidak di faksin sama dengan tidak pergi , orang tua ku mengusulkan , pergi ke singapur saja , pulang hari dan sepertinya itu satu – satunya jalan keluar . kesingapur hanya untuk di faksin…..Gelooo…

Hp ku berdering

Sepucuk surat tampil di layar HP ku , sms dari teman ku Gema , berisi

“ki , di bandara Adi sumarmo masih ada yellow fever , atau di pelabuhan semarang juga masih ada”

Aku pun memutuskan untuk pergi ke bandara Adi Sumarmo , dari pada kesingapur yang lebih menghabiskan uang.

Pagi – pagi , jam 8 pagi , aku menelepon bandara Adi Sumarmo untuk memastikan apakah masih ada yellow fever disana , dan ternyata memang masih ada , aku telepon kakak ku

“teh , di Solo ada. Gimana ?sekarang pergi ke sana?”

“naek apa?” kata kakak ku.

“ya terserah , pesawat atau kereta”

“naek kereta 12 jam , dan kalau naek pesawat mahal”

Kakak ku memutuskan untuk naik pesawat saja , dan aku pun langsung pergi ke bandara Soekarno – Hatta naik bis Damri , bis khusus ke bandara.

Dalam perjalanan aku berfikir

Aku akan back packing , aku akan menggelandang disana , aku hanya akan tidur beralaskan benang – benang tipis yang menyelimutiku , tanpa tikar , karpet atau bantal sekali pun , aku akan tidur menggunakan tas ku sebagai penopang kepala ku.

Ini akan menjadi pengalaman back packing ku di negeri sendiri , tidur di bandara Adi Sumarmo Solo.

Bis ku melewati pantai utara pulau jawa

Dari jendela bis , kulihat hamparan laut jawa yang membentang , Crane – Crane berjajar di pelabuhan Tanjung Priuk , bagai tangan besi yang menggotong ratusan konteiner , memindahkan dari satu tempat ke tempat lain , perahu – perahu Tag boat , kapal barang semua berbaris rapi membentuk saf dan banjar , hanya tali jangkar yang menahan mereka keluar dari barisan.

Jantung ku berdegup kencang , beberapa hari lagi aku akan melaut , tiba – tiba saja keraguan muncul , sepertinya aku takut untuk berlayar. Dan beberapa jam lagi , aku akan berada ratusan meter di udara , aku tak akan berdaya , semua kuserahkan kepada penguasa pesawat . ini untuk pertama kalinya aku akan naik pesawat setelah 15 tahun yang lalu , aku tegang , aku gugup , dan aku takut.

Tiba di bandara , terminal Lion Air , kakak ku sudah menunggu di A&W , tiket pulang pergi Solo – Jakarta sudah di pesan. 1 jam 45 menit lagi aku akan ke Solo.

“gimana ki udah siap”

“udah , siap back packing , udah bawa kamera , payung , jaket “

“ihhh…cumi…niat banget c pake bawa kamera segala”

“kan sayang pengalaman pertama….hahaha”

tiba – tiba saja Gema sms

“ gimana ki? Aku udah sampe jakarta lagi nih , aku udah dapet yellow fevernya”

“aku baru mau akan berangkat ma “ jawab ku

Hebat juga dia , sudah balik lagi ke jakarta setelah dapat yellow fever di Semarang , dan aku baru akan pergi.

Kakak ku hanya bisa diam.

Aku merenung , back packer.

“cek lagi nih , telepon bagian kesehatan soekarno hatta”, kata kakak ku

“yaudah mana?”

“hallo, bagian kesehatan bandara Soekarno – Hatta?”

“iya” kata orang di seberang sana

“saya mau tanya pak , yellow fever sudah ada apa belum ya?”

“ohh..ohhh..ada..ada….untuk berapa orang?”

“1 orang pak , kebeneran saya lagi ada di Lion Air”

“ya sudah kesini aja , deket Pos dan Giro”

“ohh..iya..terima kasih pak”

Aku tertawa , entah aku beruntung atau tidak , akirnya aku batal back packer , aku di faksin di jakarta , tiket pulang – pergi aku tukar kembali.

I think im still a lucky boy , like Mr.Paris said “ I hope you Lucky “

Training

Aku memulai training Safety Craf and Rescue Boat di focus maritime training untuk 3 hari, masuk jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore. Aku seperti biasa pada waktu traning BST , selalu datang terlambat , karena rumah ku yang jauh di bojong gede , tak memungkinkan untuk sampai tempat training tepat waktu , kecuali aku berangkat dari rumah jam 5 pagi , dan itu sesuatu hal yang tak mungkin , karena aku selalu belum bangun. Suasana di kelas sangat membosankan , pelajaran ini tidak seperti pelajaran kalkulus yang memerlukan perhatian spesial , atau pelajaran Elektronika Daya yang bisa menaikan semangatku untuk belajar dan tetap memperhatikan dosen ku. Pelajaran ini membuat ku mengantuk , tak banyak yang bisa ku perbuat didalam kelas , hanya menyender ke tembok dan mendengarkan MP3 player , habis makan siang perilaku ku pun tak berubah , hanya melamun hingga tertidur beberapa saat , sampai teman ku membangunkan bahwa sudah saatnya Assasment.

Hari hari ku jalani dengan apa adanya , aku pasrah dengan jadwal training yang monoton , yang ku butuhkan hanya sertifikat untuk saat ini , hari terakhir di focus , praktek mengemudikan rescue boat aku mengemudiakan hanya 3 menit bergantian dengan teman teman yang lain.

Selesai training di focus , aku lalu mendaftar kan diri di SPG (Sinar Posaidon Gupita) Maritime Training , aku mengambil Advance Fire Fighting selama 3 hari. Tak ada hari libur , langsung mulai training , di sini sangat berbeda dengan di Focus , aku merasa , di sini peraturan lebih “longgar” , bahkan aku telat sampai 1 jam 30 menit pun ternyata kelas belum dimulai , selain itu intirahat cafĂ© break nya hanya disediakan nescafe tanpa makanan ringan , tapi dosen di sini lebih dapat menghidupkan suasana , bisa membuat orang memperhatikan materi yang diberikan.

Hari terakhir di PSG , diakirin dengan praktek memadamkan api , berlokasi di danau salam Universitas Indonesia , sungguh mengejutkan , praktek di sini lebih dahsyat , bagi orang yang tidak bisa berenang langsung di ceburkan ke danau , no excuse. Api yang di padamkannya pun sangat besar , kilang minyak bekas yang sudah tidak terpakai digunakan sebagai bahan praktek. Nyali ku pun ciut , aku tidak mau memegang nosel bagian depan , aku hanya memegang bagian fire hose(selang air).

10 hari menjelang keberangkatan

Aku harus tes marlins , suatu tes bahasa inggris untuk pelaut , hanya belajar dari kamus Oxford tentang number dan time , karena itu bagian dari soal yang akan keluar . aku pun lulus dengan skor 86 , bagian Number and time aku mendapatkan nilai sempurna 100 , sedangkan yang lain seperti grammer , vocabulary , listening , reading aku mendapatkan skor di atas 80. hasil yang cukup memuaskan.

5 hari menjelang keberangkatan

Aku masih harus mengikuti training Induction day.

Racun Psikologi

Besok visa amerika ku keluar , tidak ada yang lebih menyenangkan dari pada mendapatkan visa US, tidak semua orang bisa lolos wawancara , ada pepatah yang mengatakan :

“ apabila anda di tolak mendapatkan visa US , alasannya hanya pihak Amerika dan Tuhan yang tahu “

Aku tidak mengerti kenapa pihak kedutaan Amerika tidak memberikan solusi bagi orang yang tidak bisa mendapatkan visanya , tapi begitulah sikap negara adidaya , berkuasa atas segalanya. “Uruslah masalah mu sendiri , kamu tidak diterima disini”.

Kringgg…kringgg…..kringggg…..

Menggangu mandi ku yang sedang berjalan baru 5 menit

“halo.”

“ini Ricky ya.?”

“iya”

“saya vega dari meranti , begini Ricky , kamu berangkatnya tanggal 28 januari , dan tidak jadi ke US , kamu jadinya ke New Zealand ”

Aku cuman berfikir pendek, yaitu biaya visa ku yang untuk ke US berarti hangus

“terus , visa yang kemaren hangus mba.?”

“tidak, siapa tahu ntar kamu kesana , jadi ga perlu bikin lagi , kamu bayar visa new zealand ya , sebesar 950.000”

“iya , aku sama siapa saja mba? , semuanya batal ke US.?”

“kamu sama Gema , yang lain pisah kapal “

“cuman berdua? “

“iya….ya sekarang kamu bereskan semua sertifikatmu”

“iya mba , emang sudah di jadwalkan “

“ ok, makasi ya ric”

Aku senang, aku jingkrak jingkrak, namun jantung ku berdebar sangat cepat

“ya ampun dimaju kan , ya allah , siap kah saya” ,

Aku lompat kecil - kecil dikamar , nafasku menjadi tidak beraturan , badan ku kembali berkeringat.

Aku sampaikan kabar ini kepada orang tua ku yang baru saja pulang kantor

“mah, di majukan , tanggal 28 berangkat , trus tidak jadi ke US , jadinya ke Selandia Baru”

“hahaha…ya bagus lah”

“iya, caribbean kejauhan , mendingan yang deket deket aja , masih dalam jangkauan mata memandang dalam peta ”

papa ku hanya berkomentar

“kok bisa di pindah pindah gitu “

dan langsung menuju laptop di kamar ku , dan browsing new zealand. Adik ku melinda , langsung buka peta dan tertawa

“whahaha…ya ampun ki, ngapain ke selandia baru , pulaunya cuman sekecil begini “

“lohh, emang hanya di situ aja.?, sok tau ih”

hasil browsing-an papa ku menunjukan , rute ku adalah : Selandia baru – Australia – berakhir di Thailand.

“ tuh kan ndaa, tidak cuman di situ aja” hina ku kepada adik ku..

Hati ku terbang , aku terangkat sejauh 10 cm dari lantai kamarku , imajinasi ku berterbangan , bergelora , seperti reaksi fusi yang terjadi pada matahari , menjalar liar , aku berbunga bunga , jatuh cinta saja kalah rasanya , ini lebih indah dari falling in love .

Aku kembali menapak pada lantai kamar ku , tersadar aku harus membereskan training yang tertunda , aku masih harus lebih semangat lagi menyiapkan diri ku.

Aku dan Gema akan ke Auckland - Selandia baru , teman ku Adrian akan ke Everglades-Florida , dan Robert teman ku yang baru ku kenal sejak penerimaan ini akan ke Port Au Prince – Haiti.

Aku simpan rapat rapat kebahagian ku

“ cukup bersuka cita nya , itu masih lama 3 minggu lagi “ gumam ku.

≈

Tanpa sengaja aku bertemu kencan 10 detik ku di yahoo messenger

“oi” sapa ku

“apa an c ga jelas”

“galak banget c? kesemua orang bukan kaya begitu”

“engga , ke kamu doang”

senangnya di spesialkan

“oiy kemaren nonton mama loren tidak ?” tanya ku iseng

“nonton tapi tidak memperhatikan”

“dia ngomong apa”

“lupa, tidak memperhatikan c , kamu tuh cowo , masa nonton mama loren c?”

“pengen tahu ramalan mama loren “

“capee dehhh”

ke habisan kutu aku mencari bahan pembicaraan

“tahu ramalan taun 2012 tidak?”

“engga”

“mama loren ngomongin itu”

“ohhh”

dame...jawaban yang singkat dan jelas

“nihhh buka di you tube “ aku kasi link ke dia “ buka saja , cepetan “

2 menit berlalu

“gimana bagus ga?”

“belum aku buka”

“ihhh, gimana c , mau bagi ilmu tidak di buka , cepet buka”

“iya , sabarrr , bawel banget c kau “

3 menit berlalu

“Cinta gimana udah liat? , lama amat , Rangga sudah capet nih nunggunya “

“ihhh, apa c , bawell banget c…ntar aku lagi nonton DVD”

“hahhh, dari tadi nonton jadi kapan mau liat nya?”

“ntar , abis nonton dvd”


Malam itu , langsung aku kirim message ke teman ku Robert yang mahasiswa Trissakti

“ aku yakin dia masi suka sama aku , aku di panggil BAWEL “


Sudah ku duga aku terkena racun Psikologi

gejala : Kompleks Superioritas , terlampau bahagia , kebanggaan diri palsu.

Bawel seolah kalimat cinta untuk ku , dasar sinting.

Anti klimaks

Sepuluh tahun berlalu setelah cinta pertama ku, Rini pun berlalu, hilang dari kehidupan ku, berbagai macam wanita silih berganti , datang dan pergi mengetuk pintu hatiku, kadang mereka hanya mengetuk , setelah di bukakan mereka pergi, atau kadang aku membukakan pintu tapi tak ada yang mengetuk.

Hanya satu wanita yang sulit dilupakan, yaitu wanita yang 3 tahun lalu menolak ku dengan cara yang aneh , dengan cara yang fantastik, yaitu wanita kencan 10 detik ku, kencan yang sangat singkat, hampir bisa dikatakan itu bukanlah suatu kencan, lebih tepatnya hanya papasan muka.

Sudah 3 tahun sejak kejadian yang paling menyesakkan itu, tapi mungkin karena itu aku selalu membandingkan wanita yang lain dengan dia, mencari yang mirip , ia seperti Asya Syara, Tika AFI, dan Ayudia Bing Slemet. Sekarang 25 hari menjelang keberangkatan ku ke US, kepulauan caribbia , aku akan pergi , pergi jauh , jauh meninggalkan Indonesia , jauh meninggalkan kencan 10 detik ku. Aku ingin bertemu , aku ingin melihat dia walaupun hanya dalam jangkauan 10 meter , hanya untuk memastikan apakah masih ada getaran getaran , apakah jarum jarum seismograf di hatiku masih bergerak ketika melihatnya, mengguratkan gelombang gelombang dalam skala richter.

Aku jadi teringat pengalaman mencari pasangan bersama teman ku robert, dia seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan desain di Universitas Trisakti. kita jalan jalan di mal Botani Square Bogor, yang kita lakukan hanya satu, memperhatikan setiap wanita dengan detail, dan prinsip kita hanya satu , mencari wanita yang bisa menggetarkan hati kita , yang bisa membuat tensi kita naik. Setiap lantai kita berjalan perlahan , memutar tanpa arah , naik ketingkat selanjutnya , memutar kembali tanpa arah , berlanjut ketingkat selanjutnya, kita hanya bisa berkata

“waww cantik..”.....”wahh...eksotis..” dan geleng – geleng kepala..

“kapan kita punya wanita secantik itu bet..?”

Dan tetap saja hasilnya tidak ada , kita hanya menjadi pria yang bermimpi mendapatkan wanita cantik , sedangkan kita hanya berpenampilan seadanya, tak menonjol sama sekali.

Lelah dengan itu semua, kita beristirahat di sebelah mal tersebut, orang orang menamainya taman IPB. Hanya ada satu cafe berdiri di sana , dan ada beberapa meja dan kursi terbuat dari batu seperti dari jaman perundagian. Kursi dan meja itu tersebar , ada yang mengelilingi pohon besar, seolah - olah pohon itu merupakan kanopi raksasa untuk tempat duduk tersebut. Banyak pohon ridang di taman itu , suasana sangat gelap dimalam hari, hanya ada penerangan kecil dari lampu sorot cafe, dan penerangan dari maha suci allah yang menciptakan bulan.

Kami duduk di salah satu batu yang berfungsi sebagai kursi, menatap keliling , kira kira ada 3 kelompok yang sedang berada di taman itu. Kelompok pertama, satu pasang pria dan wanita, mereka dengan asiknya bercengkrama saling tatap, saling menikmati keindahan mata pasangannya, kelompok kedua adalah aku dan robet yang sedang menikmati lingkungan sekitar, menikmati perilaku individu individu, dan kelompok ketiga adalah 4 orang anak anak , bisa dibilang tidak terlalu anak anak , mungkin mereka berumur 15 tahunan , 3 orang pria dan 1 orang wanita. Mereka bercanda canda, hingga satu adegan terjadi , sang wanita mendekati salah satu prianya , semakin dekat lama-lama semakin dekat , bersentuhanlah antara keduanya saling berhadapan , sehingga tidak ada jarak antara mereka , hidung mereka hanya berjarak 1 kepal tangan , temannya hanya bersorak

“cium..cium..cium..”

Aku hanya memperhatikan dan diam

Dan terjadilah , wanita itu mencium leher pria itu , satu kali , dua kali , dikedua begian leher. Aku hanya berkata

“ohh my god...di tempat umum”

Robert pun hanya memperhatikan kejadian langka itu. Ga lama kemudian , 2 orang temannya pergi meninggalkan pasangan itu berdua. Aku berfikir “wah ini pasti berbahaya”.

Dan benar saja, tidak lama kemudian bukan hanya leher , wanita itu mulai menjelajah wilayah lain, ciuman lah mereka.

Aku hanya bisa diam, menyaksikan film biru didepan mataku secara langsung

Kemudian sepasangan pria dan wanita datang, bisa dikatakan kelompok empat, dan aku berfikir, “ohh ternyata ini emang tempat untuk pacaran”, dan robert pun setuju dengan pemikiran ku.

Aku lihat wanita dari kelompok 4 begitu sangat atraktif dengan pasangannya, tanpa ditunggu lama lagi, mereka pun bercumbu dikursi yang terbuat dari batu, di bawah kanopi raksasa yang menaungi mereka. Sangat liar.

Sepulang dari situ aku menyatakan UUD ku , aku tidak akan melakukan seperti itu dengan wanita kencan 10 detik ku. Dan teman ku Robert hanya mendeklarasikan bahwa dia langsung HBW (Haus Belaian Wanita).

new moon

Kata orang , apabila masa lalu kita tiba tiba saja terlintas, dan dapat merasakan masa masa itu dengan jelas, katanya kita sudah dekat dengan maut.

Saat ini aku teringat masa kecil ku

Masa ketika aku masih sekolah di tingkat pertama, sekolah menengah pertama negeri 5 Bogor. Dengan susah payah aku masuk sekolah tersebut, lebih tapatnya dengan mengeluarkan beberapa lembar uang 20 ribuan, jika di total-total mungkin jutaan rupiah.

Aku masuk , bukan karena aku pintar, NEM ku di bawah standar penerimaan siswa baru sekolah itu , aku ga masuk sekolah negeri favorite , paling bagus aku keterima di SMP negeri 12. tapi kedua orang tua ku memaksakan klo aku harus masuk sekolah itu walupun harus melalui jalan belakang. Bukan sesuatu yang perlu dibanggakan masuk sekolah lewat jalan belakang, aku seperti anak ayam yang terlahir cacat, anak ayam yang terlahir beda dengan yang lain, seperti anak ayam yang memiliki bercak hitam di kepalanya. Aku merasa terasing di sekolah itu “sepertinya yang lain pinter – pinter”, yang masuk secara resmi, dan aku tidak.

Tahun pertama ku di bangku smp

Semua berjalan normal, aku mempunyai teman yang sangat dekat, ato bisa dibilang kita memiliki grup, nama grup ku adalah ngelaba, itu adalah nama acara di TPI, aku, riesna ,dan rizky adalah 3 orang yang mewakili akri , eko , parto. Begitu kita meledek kita masing masing, aku sebagai Akri , riesna sebagai eko dan emang tabiat riesna suka niru niru eko, dan rizky sebagai Parto, sifatnya yang kejawaan membuatnya cocok memakai blangkon di tambah dengan kaca mata yang dia pakai.

Hingga kejadian abnormal menimpa ku, ketika aku lagi membersihkan kaca kelasku, dihari aku piket harian, di hari yang luar biasa itu, mata ku , rambutnya hitam panjang, kulitnya putih , matanya bening seperti telur mata sapi hanya korneanya berwarna coklat menandakan dia seorang ras austronesia. Mataku terdiam beberapa saat , jantung ku berkumandang , ber takbir seperti tabuhan beduk ketika malam takbiran. Hingga teman ku menyenggol ku dengan sapu injuk, sadar lah aku dari lamunan menyesatkan. Dia adalah Rini Yanita wanita disebelah kelas ku. Wanita pertama yang membuat jantung ku berdebar di tahun pertamaku, inilah cinta pertama ku.!.

Aku bercerita kepada 3 sekawan ku tentang penyakit yang kuderita ini, penyakit yang bukan sembarang penyakit, penyakit jatuh dari langit, penyakit yang membuat jalan yang setiap aku lewati berubah jadi bunga , penyakit cinta.

Hingga suatu hari aku menulis surat untuk sang biduan Rini.surat cinta pertama ku.

Aku kasih surat itu, melalui Rizky.

Ternyata surat tersebut rizky titipkan ke temannya rini.

Marah bukan kepalang, bagaimana klo surat itu temannya baca, bagaimana klo surat itu dibacakan di depan kelas, bagaimana klo surat itu tidak sampai.

Dan benar

Ke esokan harinya, diwaktu istirahat , lagi duduk duduk dibangku memandangi teman – teman yang bermain pingpong , teman rini, sara , datang menghampiri ku bersama rini. Shock, jantung berhenti , kemudian berdetak, semakin lama semakin cepat, bukan hanya seperti genderang takbiran, lebih melebihi genderang perang jaman romawi kuno.

“ricky, ini rini “ kata sara

“iya”

teman teman yang sedang bermain pingpong semua berhenti bermain, bola bola ping pong sekarang tidak menarik buat mereka, opera ricky dan rini lebih menarik buat ditonton, semua menyaksikan pertunjukan ini, semua mata melihat, aku seperti disergap oleh puluhan mata serigala, semua berteriak “tembak..tembak…tembak…”

Ga ada kalimat yang keluar dari mulut ku, cuman “iya”, “kenapa” dan senyum lebar

“ric, cepet bilang ada orang lain selain kamu”, kata sara

“iya ntar”

kejadian itu begitu cepat, menghabiskan waktu istirahatku yang panjang , semua terasa pendek ,bel sudah berbunyi menandakan istirahat berakhir, sara cuman berkata pendek “ jangan nyesel loh ric “

aku pun jalan menuju kelas ku.

“Akan aku lakukan…akan aku lakukan…tapi ga disini”

aku memutuskan menyatakan ketika dia sendiri, tapi aku ga tahu dimana, dan ga tahu kapan. Jam pulang sekolah, aku menunggu dia pulang, aku tunggu dia diseberang jalan, aku berniat “bilang saja di air mancur”. Aku naik angkot yang sama dengan dia, tidak terjadi pembicaraan diatas angkot, sunyi semua sepi,aku cuman bisa menatap dia itu pun hanya beberapa mikro secon, dia turun di air mancur, melewati ku yang duduk di dekat pintu angkot dan aku pun ikut turun. Aku hanya bisa menatap dia berlalu ,meninggalkan segompah daging yang berdiri kaku memerhatikan dia, menyebrangi jalan sendiri, dan aku hanya diam, tak ada satu kata yang terucap. Apa yang telah aku lakukan? Aku bertingkah seperti bukan laki laki, disiang hari aku disuruh menyatakan perasaan ku, lalu aku ikuti dengan angkot yang sama, tanpa mengucapkan sepatah kata pun , dan sekarang dia telah pergi.