Kata orang , apabila masa lalu kita tiba tiba saja terlintas, dan dapat merasakan masa masa itu dengan jelas, katanya kita sudah dekat dengan maut.
Saat ini aku teringat masa kecil ku
Masa ketika aku masih sekolah di tingkat pertama, sekolah menengah pertama negeri 5 Bogor. Dengan susah payah aku masuk sekolah tersebut, lebih tapatnya dengan mengeluarkan beberapa lembar uang 20 ribuan, jika di total-total mungkin jutaan rupiah.
Aku masuk , bukan karena aku pintar, NEM ku di bawah standar penerimaan siswa baru sekolah itu , aku ga masuk sekolah negeri favorite , paling bagus aku keterima di SMP negeri 12. tapi kedua orang tua ku memaksakan klo aku harus masuk sekolah itu walupun harus melalui jalan belakang. Bukan sesuatu yang perlu dibanggakan masuk sekolah lewat jalan belakang, aku seperti anak ayam yang terlahir cacat, anak ayam yang terlahir beda dengan yang lain, seperti anak ayam yang memiliki bercak hitam di kepalanya. Aku merasa terasing di sekolah itu “sepertinya yang lain pinter – pinter”, yang masuk secara resmi, dan aku tidak.
Tahun pertama ku di bangku smp
Semua berjalan normal, aku mempunyai teman yang sangat dekat, ato bisa dibilang kita memiliki grup, nama grup ku adalah ngelaba, itu adalah nama acara di TPI, aku, riesna ,dan rizky adalah 3 orang yang mewakili akri , eko , parto. Begitu kita meledek kita masing masing, aku sebagai Akri , riesna sebagai eko dan emang tabiat riesna suka niru niru eko, dan rizky sebagai Parto, sifatnya yang kejawaan membuatnya cocok memakai blangkon di tambah dengan kaca mata yang dia pakai.
Hingga kejadian abnormal menimpa ku, ketika aku lagi membersihkan kaca kelasku, dihari aku piket harian, di hari yang luar biasa itu, mata ku , rambutnya hitam panjang, kulitnya putih , matanya bening seperti telur mata sapi hanya korneanya berwarna coklat menandakan dia seorang ras austronesia. Mataku terdiam beberapa saat , jantung ku berkumandang , ber takbir seperti tabuhan beduk ketika malam takbiran. Hingga teman ku menyenggol ku dengan sapu injuk, sadar lah aku dari lamunan menyesatkan. Dia adalah Rini Yanita wanita disebelah kelas ku. Wanita pertama yang membuat jantung ku berdebar di tahun pertamaku, inilah cinta pertama ku.!.
Aku bercerita kepada 3 sekawan ku tentang penyakit yang kuderita ini, penyakit yang bukan sembarang penyakit, penyakit jatuh dari langit, penyakit yang membuat jalan yang setiap aku lewati berubah jadi bunga , penyakit cinta.
Hingga suatu hari aku menulis surat untuk sang biduan Rini.surat cinta pertama ku.
Aku kasih surat itu, melalui Rizky.
Ternyata surat tersebut rizky titipkan ke temannya rini.
Marah bukan kepalang, bagaimana klo surat itu temannya baca, bagaimana klo surat itu dibacakan di depan kelas, bagaimana klo surat itu tidak sampai.
Dan benar
Ke esokan harinya, diwaktu istirahat , lagi duduk duduk dibangku memandangi teman – teman yang bermain pingpong , teman rini, sara , datang menghampiri ku bersama rini. Shock, jantung berhenti , kemudian berdetak, semakin lama semakin cepat, bukan hanya seperti genderang takbiran, lebih melebihi genderang perang jaman romawi kuno.
“ricky, ini rini “ kata sara
“iya”
teman teman yang sedang bermain pingpong semua berhenti bermain, bola bola ping pong sekarang tidak menarik buat mereka, opera ricky dan rini lebih menarik buat ditonton, semua menyaksikan pertunjukan ini, semua mata melihat, aku seperti disergap oleh puluhan mata serigala, semua berteriak “tembak..tembak…tembak…”
Ga ada kalimat yang keluar dari mulut ku, cuman “iya”, “kenapa” dan senyum lebar
“ric, cepet bilang ada orang lain selain kamu”, kata sara
“iya ntar”
kejadian itu begitu cepat, menghabiskan waktu istirahatku yang panjang , semua terasa pendek ,bel sudah berbunyi menandakan istirahat berakhir, sara cuman berkata pendek “ jangan nyesel loh ric “
aku pun jalan menuju kelas ku.
“Akan aku lakukan…akan aku lakukan…tapi ga disini”
aku memutuskan menyatakan ketika dia sendiri, tapi aku ga tahu dimana, dan ga tahu kapan. Jam pulang sekolah, aku menunggu dia pulang, aku tunggu dia diseberang jalan, aku berniat “bilang saja di air mancur”. Aku naik angkot yang sama dengan dia, tidak terjadi pembicaraan diatas angkot, sunyi semua sepi,aku cuman bisa menatap dia itu pun hanya beberapa mikro secon, dia turun di air mancur, melewati ku yang duduk di dekat pintu angkot dan aku pun ikut turun. Aku hanya bisa menatap dia berlalu ,meninggalkan segompah daging yang berdiri kaku memerhatikan dia, menyebrangi jalan sendiri, dan aku hanya diam, tak ada satu kata yang terucap. Apa yang telah aku lakukan? Aku bertingkah seperti bukan laki laki, disiang hari aku disuruh menyatakan perasaan ku, lalu aku ikuti dengan angkot yang sama, tanpa mengucapkan sepatah kata pun , dan sekarang dia telah pergi.
.jpg)
Posting Komentar