Sepuluh tahun berlalu setelah cinta pertama ku, Rini pun berlalu, hilang dari kehidupan ku, berbagai macam wanita silih berganti , datang dan pergi mengetuk pintu hatiku, kadang mereka hanya mengetuk , setelah di bukakan mereka pergi, atau kadang aku membukakan pintu tapi tak ada yang mengetuk.
Hanya satu wanita yang sulit dilupakan, yaitu wanita yang 3 tahun lalu menolak ku dengan cara yang aneh , dengan cara yang fantastik, yaitu wanita kencan 10 detik ku, kencan yang sangat singkat, hampir bisa dikatakan itu bukanlah suatu kencan, lebih tepatnya hanya papasan muka.
Sudah 3 tahun sejak kejadian yang paling menyesakkan itu, tapi mungkin karena itu aku selalu membandingkan wanita yang lain dengan dia, mencari yang mirip , ia seperti Asya Syara, Tika AFI, dan Ayudia Bing Slemet. Sekarang 25 hari menjelang keberangkatan ku ke US, kepulauan caribbia , aku akan pergi , pergi jauh , jauh meninggalkan Indonesia , jauh meninggalkan kencan 10 detik ku. Aku ingin bertemu , aku ingin melihat dia walaupun hanya dalam jangkauan 10 meter , hanya untuk memastikan apakah masih ada getaran getaran , apakah jarum jarum seismograf di hatiku masih bergerak ketika melihatnya, mengguratkan gelombang gelombang dalam skala richter.
Aku jadi teringat pengalaman mencari pasangan bersama teman ku robert, dia seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan desain di Universitas Trisakti. kita jalan jalan di mal Botani Square Bogor, yang kita lakukan hanya satu, memperhatikan setiap wanita dengan detail, dan prinsip kita hanya satu , mencari wanita yang bisa menggetarkan hati kita , yang bisa membuat tensi kita naik. Setiap lantai kita berjalan perlahan , memutar tanpa arah , naik ketingkat selanjutnya , memutar kembali tanpa arah , berlanjut ketingkat selanjutnya, kita hanya bisa berkata
“waww cantik..”.....”wahh...eksotis..” dan geleng – geleng kepala..
“kapan kita punya wanita secantik itu bet..?”
Dan tetap saja hasilnya tidak ada , kita hanya menjadi pria yang bermimpi mendapatkan wanita cantik , sedangkan kita hanya berpenampilan seadanya, tak menonjol sama sekali.
Lelah dengan itu semua, kita beristirahat di sebelah mal tersebut, orang orang menamainya taman IPB. Hanya ada satu cafe berdiri di sana , dan ada beberapa meja dan kursi terbuat dari batu seperti dari jaman perundagian. Kursi dan meja itu tersebar , ada yang mengelilingi pohon besar, seolah - olah pohon itu merupakan kanopi raksasa untuk tempat duduk tersebut. Banyak pohon ridang di taman itu , suasana sangat gelap dimalam hari, hanya ada penerangan kecil dari lampu sorot cafe, dan penerangan dari maha suci allah yang menciptakan bulan.
Kami duduk di salah satu batu yang berfungsi sebagai kursi, menatap keliling , kira kira ada 3 kelompok yang sedang berada di taman itu. Kelompok pertama, satu pasang pria dan wanita, mereka dengan asiknya bercengkrama saling tatap, saling menikmati keindahan mata pasangannya, kelompok kedua adalah aku dan robet yang sedang menikmati lingkungan sekitar, menikmati perilaku individu individu, dan kelompok ketiga adalah 4 orang anak anak , bisa dibilang tidak terlalu anak anak , mungkin mereka berumur 15 tahunan , 3 orang pria dan 1 orang wanita. Mereka bercanda canda, hingga satu adegan terjadi , sang wanita mendekati salah satu prianya , semakin dekat lama-lama semakin dekat , bersentuhanlah antara keduanya saling berhadapan , sehingga tidak ada jarak antara mereka , hidung mereka hanya berjarak 1 kepal tangan , temannya hanya bersorak
“cium..cium..cium..”
Aku hanya memperhatikan dan diam
Dan terjadilah , wanita itu mencium leher pria itu , satu kali , dua kali , dikedua begian leher. Aku hanya berkata
“ohh my god...di tempat umum”
Robert pun hanya memperhatikan kejadian langka itu. Ga lama kemudian , 2 orang temannya pergi meninggalkan pasangan itu berdua. Aku berfikir “wah ini pasti berbahaya”.
Dan benar saja, tidak lama kemudian bukan hanya leher , wanita itu mulai menjelajah wilayah lain, ciuman lah mereka.
Aku hanya bisa diam, menyaksikan film biru didepan mataku secara langsung
Kemudian sepasangan pria dan wanita datang, bisa dikatakan kelompok empat, dan aku berfikir, “ohh ternyata ini emang tempat untuk pacaran”, dan robert pun setuju dengan pemikiran ku.
Aku lihat wanita dari kelompok 4 begitu sangat atraktif dengan pasangannya, tanpa ditunggu lama lagi, mereka pun bercumbu dikursi yang terbuat dari batu, di bawah kanopi raksasa yang menaungi mereka. Sangat liar.
Sepulang dari situ aku menyatakan UUD ku , aku tidak akan melakukan seperti itu dengan wanita kencan 10 detik ku. Dan teman ku Robert hanya mendeklarasikan bahwa dia langsung HBW (Haus Belaian Wanita).
.jpg)
Posting Komentar